Penilaian Pentingkah Atau Tidak?

 


Manusia merupakan makhluk sosial yang pasti Anda sudah mengerti itu. Kita bertemu dengan segelintir orang yang memiliki pola pikir dan juga kebiasaan yang berbeda-beda. Tentunya, penilaian sudah menjadi satu dalam diri kita. Tidak ada hari tanpa menilai orang, baik yang kita lihat maupun teman, keluarga, guru dan lainnya. 

Penilaian yang kita lakukan secara terus menerus apalagi kalau kita--Anda sering bertemu dengan orang itu-itu saja, penilaian yang Anda buat akan mengubah respon, pola pikir, dan tanggapan Anda kepada orang tersebut. Dapat disimpulkan bahwa penilaian sejatinya akan mengubah diri Anda menjadi orang yang berbeda, dan itu sangat berbahaya. 

Saya beri satu contoh bahaya apa yang akan Anda dapatkan setelah menilai orang lain.

A adalah siswi SMA yang sangat berbakat, ia sangat bangga ketika teman dan guru-gurunya memuji kecerdasannya. Ia bahkan bersedia membantu teman-temannya yang kesulitan akan beberapa pelajaran. Dan itu ia lakukan setiap hari sampai siswi A dijuluki sebagai malaikat kepintaran. Beberapa minggu berikutnya siswi C yang terkenal suka membuly temannya di sekolah mendekati siswi A untuk menawarkan dirinya dan ketiga temannya--berteman dengan siswi A. Awalnya siswi A menolak, karena ia mengenal siapa mereka. Ia tak ingin menerima tawaran pertemanan dari mereka sampai tiba-tiba siswi baru (siswi B) muncul di sekolah dan menggeser popularitas siswi A sebagai malaikat kepintaran. Siswi A-pun kehilangan banyak teman. Ada berbagai alasan kenapa anak-anak lain meninggalkan siswi A dan memilih siswi B sebagai guru mereka. Yang pertama adalah, penjelasan yang diberikan siswi A tidak dapat mereka pahami, caranya yang mulai tidak benar membuat mereka menjauh dan memilih siswi B--untuk membantu mereka. Siswi A pun merasa jengkel dan kejengkelan-nya mulai membuat nilainya turun, ia kesal dan kesal. Penilaian-nya akan siswi B mulai berkembang ketika cowok yang ia taksir sejak SMP mengajak siswi B pacaran. Yang tadinya hanya menganggap siswi B sebagai ngengat dan pembunuh dan penagih utang, ia mulai menilai siswi B sebagai manusia alay yang berkeliaran dan tebar pesona kepada para pria di sekolah. Karena itu, siswi A pun menjauhi siswi B ketika siswi B ingin berteman dengan dirinya. Ia bahkan mengutuki siswi B ketika siswi B berjalan melewatinya, ia menghina cara berjalan siswi B yang normal-normal saja, bahkan mempersalahkan cara siswi B berpakaian. Rambutnya, ponselnya, suaranya, bahkan siswi B bernafas-pun, siswi A sangat mempersalahkan-nya. Siswi C yang mengerti kondisi tersebut mulai memanas-manasi dan mendukung anggapan siswi A yang kelihatan tidak suka ketika siswi B mendekatinya. Ia bahkan menceritakan tingkah siswi B yang di lebih-lebihkan kepada siswi A--dan memberikan ide gila kepada siswi A untuk melakukan sesuatu yang buruk. Membunuh misalnya?, dan dorongan tersebut ditanggapi siswi A dengan antusias--sehingga dia melakukan hal serupa. 

Bagaimana? Apa Anda sudah memahami konsep penilaian yang digunakan siswi A kepada teman barunya?

Dapat Anda pahami bahwa di sini penilaian yang terus menerus Anda dan saya lakukan kepada orang lain sangat mempengaruhi diri kita. Bagaimanapun itu penilaian juga akan berkembang dan sangat berbahaya bagi sebagian dari Anda, apalagi sebagian orang yang tidak bisa mengendalikan diri.

Awalnya saya ingin mengajak Anda untuk berhenti menilai orang lain karena alasan tersebut. Alasan yang bisa saja berbahayaAkan tetapi, setelah saya pikir lagi tentang konsep penilaian ini, dan mempertanyakan "Pentingkah menilai orang lain? Atau malah tidak sama sekali?" Gagasan baru mulai muncul dan membuat kepala saya mengangguk--setuju.

Langsung saja ke bagian inti dari topik yang akan saya bicarakan. Kali ini dengan judul "Penilaian, Pentingkah Atau Tidak?"

Saya akan memberikan dua jawaban terhadap pertanyaan saya sendiri.

1.) Penilaian merupakan hal yang tidak dapat kita hindari atau mungkin di hilangkan dari hidup kita. Dan penilaian adalah hal penting yang perlu diterapkan jika Anda tidak ingin digunakan sebagai bahan uji coba orang lain yang tidak berpendidikan. 

2.) Penilaian itu perlu tiga tahap

     1. Menetralkan pikiran

     2. Mengoreksi diri sendiri

     3. Beri kesimpulan

Jadi, penilaian itu penting agar Anda berperilaku selayaknya jika ada orang yang annoying, dan dari penilaian itu Anda harus memiliki kendali diri. 

Untuk menilai atau menerima penilaian dari orang lain, Anda haru memikirkan 3 tahap penilaian yang sebenarnya. 

Saya akan memberikan contoh tentang 3 respon penilaian yang saya berikan tadi.

Seorang anak bernama Diva terlambat datang ke sekolah karena mengerjakan tugas kolase yang diberikan guru prakaryanya tiga hari yang lalu. Ia masuk ke dalam kelas dengan gugup--takut di marahi. Setelah jam pertama selesai, pelajaran prakarya pun dimulai. Anak-anak di suruh maju ke depan untuk menyerahkan pekerjaannya, namun Diva masih berdiam di kursi-nya sambil merogoh tas-nya untuk mencari kolase yang ia kerjakan semalam. Akan tetapi, hasilnya nihil. Pekerjaannya ketinggalan di rumah. Diva pun diberi hukuman, ia harus keluar dari kelas, dan berlari mengelilingi lapangan sebanyak sepuluh putaran. Selain malu yang tidak tertahankan, ia masuk ke dalam kelas dengan pikiran yang sudah dipenuhi dengan kedengkian akan guru prakaryanya. Diva bersumpah pada dirinya sendiri agar tidak terlambat, ia paham betul kesalahannya apa dan ia menyadarinya. Akan tetapi, setelah duduk meneguk air minum, gurunya malah terus mengoceh dan kelas pun berakhir dengan kuliah Diva tentang kedisiplinan. Diva menilai gurunya sebagai guru jahat, tukang marah, tidak adil, dan suka mengoceh. Akan tetapi, setelah Diva merenungkan diri di kantin Diva membulatkan tekad bahwa ia tidak akan menjadi seperti apa yang gurunya bicarakan, ia akan berubah menjadi anak yang lebih baik minggu depan. 

Pada cerita yang satu ini, Anda dapat menilai sosok Diva yang berhasil untuk tidak mempertahankan argumennya. Meski ia sudah dipenuhi kejengkelan, Diva tetap memikirkan apa yang telah ia perbuat sehingga gurunya pantas menghukum dirinya. Di sini Diva menerapkan 3 respon penilaian yang saya beri tahukan kepada Anda sebelumnya. 

1. Menetralkan pikiran. Diva sudah dengki kepada gurunya dan beranggapan banyak hal bahwa gurunya di mata Diva seperti A, B, dan C. Ia lelah di kuliahi gurunya akan kedisiplinan. Namun, meski banyak alasan dapat disebutkan untuk menunjukkan gurunya seperti apa yang telah dia nilai, Diva berusaha menetralkan pikirannya, dan menatap dari sisi yang berbeda, ia mengerti kesalahannya apa, dan ia juga melihat bahwa teman-temannya saja sempat masa dia tidak? 

2. Mengoreksi diri sendiri. Meski awalnya Diva mengutuki gurunya, ia paham betul kesalahannya apa. Dia sudah membagi pikirannya, baik itu akan nilai yang diberikan gurunya, dan nilai untuk diri sendiri. 

3. Beri kesimpulan. Diva tidak melanjutkan kata-kata pedasnya kepada gurunya, dan berupaya untuk memperbaiki diri. Ia tahu gurunya tidak seperti yang ia nilai tadi. Dan dari kesimpulan, Diva tahu bahwa penilaian yang ia lakukan kepada guru prakaryanya adalah dari sisi negatifnya saja, Diva pun memberi kesimpulan bahwa tetap dia yang salah, dan cap yang ia berikan kepada guru prakaryanya sudah tidak berlaku lagi.

Contoh lain dalam hubungan percintaan yang perlu diperbaiki.

Saya melakukan survey kepada teman-teman saya yang putus dengan pacarnya. Beberapa memang tidak peduli dan memilih pacaran dengan orang lain untuk menutupi luka mereka. Ini bukan salah satu konsep penilaian yang saya maksud. 

Selanjutnya, saya mengamati mereka yang benar-benar terpuruk karena putus dengan pacarnya. Saya bertanya dan mereka menjawab bahwa alasan mereka masih mencintai mantan pacarnya (gagal move on) adalah karena mantan pacarnya adalah pria/wanita yang sempurna, yang memiliki kepribadian yang sangat mereka sukai, yang sangat cocok dengan tipe ideal mereka. Mereka terus mengoceh akan kesempurnaan pasangan mereka, tahun yang mereka habiskan, dan momen sederhana yang membekas di lubuk hati mereka yang paling dalam. Mereka hanya memikirkan sisi positif dari penilaian yang mereka berikan terhadap hubungan percintaan mereka. Mereka bahkan melupakan hal besar yang membuat hubungan mereka berakhir. 

Saya pikir jika mereka terus bersandar akan sisi positif hubungan lama mereka yang telah berakhir, mereka akan berubah menjadi orang yang berbeda, mungkin akan menjadi seorang pemain, tidak setia, dan kurang komitmen, atau kalau dalam kondisi fisik mereka akan berubah menjadi tulang tak berharga karena kekurusan atau malah berubah menjadi salah satu hewan di kebun binatang karena doyan makan. 

Dari sini Anda harus benar-benar menetralkan pikiran Anda. Anda tidak boleh fokus akan kesenangan yang Anda dapatkan ketika berpacaran dengan mantan Anda. Akan tetapi, mengapa Anda diputuskan/memutuskan pasangan Anda, dan kesalahan apa yang ia dan juga Anda buat sehingga membuat Anda berakhir di kasur dengan tisiu berceceran dimana-mana. Lalu Anda dapat menyimpulkan nilai apa yang pantas Anda berikan terhadap hubungan Anda, pasangan Anda, dan diri Anda sendiri. 

Bagaimana menurut Anda?

Konsep penilaian yang saya jelaskan merupakan konsep sederhana yang ya orang-orang pasti tahu. Penilaian dapat merubah diri Anda jika Anda tidak memiliki kendali diri. Hikmat dan kebijaksanaan merupakan yang utama dan paling utama dalam konsep penilaian. 










Yuk mampir:


Komentar

Top Review